INOVASI PEMBELAJARAN DI ERA MILENIAL

Oleh Fitry Mulyani Kelas XII Teknik Listrik

Salah satu tugas penting Negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini tertuang dalam pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Oleh karena itu, pendidikan menjadi satu hal yang mutlak harus menjadi perhatianĀ  pemerintah. Jika pemerintah gagal dalam menciptakan pendidikan yang baik, maka kita akan menjadi bangsa yang menjadi terbelakang. Karena salah satu yang menjadi indikator kesuksesan sebuah negara dapat dilihat dari kualitas pendidikan warga negaranya.

        Pendidikan merupakan media untuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh ummat manausia. Pendidikan yang berkualitas juga mencerminkan masyarakat maju dan modern. Suatu wilayah yang masyarakatnya terdidik cendrung lebih maju daripada daerah yang masyarakatnya kurang terdidik. Secara kasat mata kita bisa melihat di sekitar kita bahwa orang yang berpendidikan lebih baik secara ekonomi daripada orang-orang yang tidak berpendidikan. Ini menunjukkan secara jelas bahwa pendidikan memperbaiki kehidupan manusia.

        Di Indonesia sendiri, rasio pendidikan masih tergolong rendah. Dari data yang ada, rasio lama sekolah masih sangat rendah yakni 5,9 tahun. Artinya, rata-rata masyarakat Indonesia belum lulus sekolah dasar (SD). Kita kalah jauh dari singapura, Malaysia, dan apalagi Negara-negara maju lainnya. Dengan rendahnya angka rata- rata lama sekolah kita, maka bisa dimaklumi bahwa masih perlu terus meningkatkan pendidikan untuk bisa menjadi Negara maju.

        Semenjak dilantik menjadi menteri pendidikan Bapak Nadiem Makarim selalu mengkampanyekan tentang merdeka belajar. Sebuah istilah baru di dunia pendidikan yang tentu memiliki pro-kontra di tengah masyarakat. Ada yang mendukung dan ada yang menolak konsep merdeka belajar bahkan ada yang seolah tidak peduli dengan istilah tersebut. Merdeka belajar adalah istilah baru yang sangat aktif sekali dikampanyekan sebagai terobosan baru kementerian pendidikan dan kebudayaan.

        Merdeka belajar adalah keleluasaan untuk belajar. Merdeka belajar adalah belajar secara bebas tanpa tekanan, intimidasi dan kekhawatiran. Anak-anak belajar dengan suasana merdeka, asyik dan tidak menakutkan. Merdeka belajar dipercaya akan bisa memberikan keleluasaan kepada anak-anak untuk berekspresi, berkreatifitas dan bersaing, sehingga semangat, kreatifitas dan kemampuan tumbuh dengan baik. Itulah yang diharapkan bisa menjadi loncatan signifikan perubahan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang lebih maju dan sejahtera.

        Salah satu yang selau menjadi bahan kritikan bagi yang kontra dengan konsep merdeka belajar adalah kekhawatiran perubahan kurikulum yang sering sekali dilakukan. Bagaimanapun perubahan kurikulum akan berdampak pada banyak hal dan sisi dalam dunia pendidikan kita. Bukan tidak beralasan, karena kurikulum- kurikulum pendidikan yang ada berganti sebelum sepenuhnya teruji dan berjalan dengan baik. Pergantian kurikulum yang paling Nampak adalah dari kurikulum 1994, kurikulum berbasis kompetensi, kurikulum 2013, dan sekarang muncul istilah merdeka belajar yang dikhawatirkan akan menjadi sebuah kurikulum baru pendidikan di Indonesia.

Beberapa konsep utama merdeka belajar adalah sebagai berikut :

  1. Beragam waktu dan tempat; proses belajar bukan hanya di ruang kelas, durasi di kelas menjadi berkurang, banyak waktu belajar di waktu serta ruang yang berbeda, sistem belajar dibalik : teoritis lebih banyak diluar kelas, sedangkan praktis lebih banyak di dalam kelas.
  2. Free Choice; dipilih siswa sesuai perangkat, program/teknik belajar sesuai siswa, mempraktikkan belajar yang paling ia rasa nyaman sehingga kemampunnya lebih terasah.
  3. Personalized Learning; menyesuaikan si pelajar dalam memahami materi, memecahkan jawaban sesuai dengan kemampuan, ibarat bermain game : mampu memecahkan tantangan akan cepat naik level jadi bukan lagi cara pukul rata kemampuan siswa.
  4. Berbasis proyek; siswa diajak untuk menerapkan keterampilan yang sudah dipelajari dalam berbagai sistuasi, seperti belajar bagaimana cara instalasi computer, memecahkan kode struktur, dan coding. Jadi pengalamannya akan terasa untuk nantinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya.
  5. Pengalaman lapangan; link and match di dunia pekerjaan sangatlah penting. Saat ini banyak sekali materi yang diajarkan di bangku sekolah dan perkuliahan yang tidak nyambung dengan dunia kerja. Pada edukasi 4.0 akan banyak pengalaman lapangan saat masih di sekolah dipraktikkan di dunia kerja.
  6. Interpretasi data; setiap siswa akan lebih banyak tahu mengenai komputer dan analisa data. Mengingat di era Revin 4.0 sangat banyak bersinggungan dengan data. Peran big data sangat sentral dalam memecahkan masalah yang ada. Data tersebut bisa digunakan sesuai kebutuhan dan menganalisa masalah jadi solusi terakhir.

Berikut juga ada empat kebijakan nasional merdeka belajar :

  1. USBN menjadi asesmen oleh sekolah; menilai kompetensi siswa melalui tes tertulis dan penilaian lain yang komprehensif. Guru dan sekolah lebih merdeka dalam menilai hasil belajar siswa. Anggaran USBN dialihkan untuk pengembangan kapasitas guru dan sekolah.
  2. Ujian Nasional (UN) diubah menjadi Asesmen kompetensi minimum dan survey karakter; tidak mengukur penguasaan materi mapel dalam kurikulum seperti yang diukur melaui UN selama ini. UN kedepan dilakukan untuk pemetaan kompetensi minimum literasi dan numerasi siswa, dan memperkuat aplikasi pembelajaran yang diukur oleh PISA dan TIMSS. Dilakukan ditengah jenjang sekolah (kelas 4, 8,11).
  3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); guru bebas memilih, membuat, mengembangkan dan menggunakan format RPP atas prakarsa dan inovasi sendiri. RPP dipersingkat yang berisi tujuan, kegiatan dan asesmen pembelajaran. Penulisan RPP efesien dan efektif agar guru punya waktu untuk menyiapkan dan evaluasi proses pembelajaran secara terarah.
  4. Sistem Zonasi PPDB dilakukan secara fleksibel; mengatasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah, ada patokan standar PPDB antar-daerah yaitu : Jalur zoasi menerima siswa minimal 50%, jalur afirmasi minimal 15 %, perpindahan maksimal 5%dan jalur prestasi atau sisa 0-30% sesuai dengan kondisi daerah. Daerah berwenang menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah zonasi.

        Guru secara sederhana diartikan sebagai seorang yang meberikan proses pembelajaran baik itu pengetahuan, keterampilan, atau pengalaman kepada siswa. Siswa adalah anggota masyarakat yang akan atau ingin mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Orangtua terdiri dari ayah dan ibu yang memiliki tugas penting untuk mendidik anak di dalam rumah, memberikan suasan yang aman dan nyaman untuk tumbuh kembang anaknya dan memberikan kasih sayang dalam bentuk apapun agar anak dapat mengembangkan dirinya.

Di balik programnya yang cukup menarik, ternyata konsep merdeka belajar juga memiliki dampak positif dan negatif bagi siswa. Antara lain :

*Ini sisi positifnya

  1. Kebijakan merdeka belajar ini menguntungkan dari segi pendidik mengapa karena pendidik bisa menemukan, menggali, sekaligus mengembangkan potensi anak dalam proses pembelaran untuk memudahkannya memilih media, bahan ajar, dan sumber ajar yang sesuai dan menarik minat dari masing- masing peserta didiknya.
  2. Proses pembelajaran berjalan secara aktif dan interaktif karena siswa bisa meluangkan gagasannya tanpa ragu.
  3. Penambahan jumlah pendidik karena minat belajar siswa yang tinggi.

*Ini sisi negatifnya:

  1. Peserta didik terkadang terkendala masalah jaringan yang kurang memadai Kurangnya fasilitas dari orangtua dan aparatur pendidik untuk memudahkan proses pembelajaran.
  2. Materi yang dibuat oleh pendidik terkadang sulit untuk dipahami oleh pemikiran siswa karena gaya bahasanya yang mohon maaf sekali terkesan tinggi.
  3. Peserta didik merasa lelah karena dibebankan dengan pekerjaan rumahnya.
  4. Peserta didik terkadang terkesan menggapangkan materi pembelajaran karena biasanya ada beberapa pendidik yang lupa memberikan tenggat atau batas waktu penggumpulan tugas.

        Dari beberapa uraian konsep dan kebijakan merdeka belajar diatas, sistem  merdeka belajar benar-benar merdeka dan laluasa; baik pada posisi menjadi siswa, guru, sekolah maupun pemerintah daerah. Keleluasaan ini tentu memiliki dampak positif dan negatifnya yang mengakibatkan adanya pro-kontra dengan konsep dan penerapan merdeka belajar. Kemerdekaan belajar memang cukup menarik jika diterapkan di Indonesia. Karena sangat banyak sekali pelajar yang memimiliki kreativitas tinggi, namun kreativitas tersebut terbengkalai karena sistem pendidikan yang selalu mendikte peserta didik. Harapan penulis, dengan adanya artikel ini penulis berharap penyelenggara pendidikan mampu untuk mengembangkan potensi dari masing-masing siswanya dengan program merdeka belajar ataupun dengan program lain yang lebih inovatif.