Pembelajaran yang berorientasi Pada Minat dan Bakat Siswa

Oleh Nadia Emalia Kelas XI Multimedia

Menteri pendidikan, Bapak Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa konsep pembelajaran kedepan harus bertumpu pada minat dan bakat siswa ( merdeka belajar). Namun sudahkah kalian memahami makna dari merdeka belajar ? dan juga bagaimana metode merdeka belajar itu?

Merdeka belajar yang dimaksud adalah siswa merdeka dalam belajar berbagai hal yang ia minati baik itu berhitung, menulis maupun membaca. Bisa juga dimaknai siswa dibebaskan untuk belajar dari segi bakat mereka misalnya anak yang suka menggambar bisa memperdalam kemampuan menggambarnya , atau anak yang suka matematika silahkan memperdalam ilmu berhitungnya, semua tergantung dari bakat siswa tersebut karna setiap siswa pasti memiliki bakat pada hal yang berbeda.

 Namun tidak hanya peran siswa yang dibutuhkan tetapi peran guru pun sangat berpengaruh, dimana guru harus benar benar memahami tentang merdeka belajar, dan bisa memberikan ruang yang seluas mungkin kepada murid dalam belajar. Dan juga bagaimana cara agar bisa menyesuaikan cara berpikir murid dan cara penyampaian materi yang memenuhi konsep merdeka belajar.

MERDEKA BELAJAR memiliki 4 kebijakan yaitu:

  1. Melonggarkan sistem zonasi

Karena pada tahun tahun sebelumnya sistem zonasi mengakibatkan banyak permasalahan maka untuk mengatasinya presentase kuota jalur zonasi diturunkan dari 80% ke 50%.

2. Tahun 2020 menjadi penyelenggaraan UN  untuk terakhir kalinya.

Ujian nasional (UN) akan di tiadakan dan diganti dngan Asesmen Kompeteni Minimum Literasi dan Numerasi dan Survei Karakter.

Namun literasi yang dimaksud bukan hanya kemampuan membaca tapi kemampuan siswa menganalisis dan memahami sebuah tulisan, sedangkan numerasi adalah kemampuan menganalisis dengan angka.

Sehingga literasi dan numerasi di sini bukan tentang bahasa  indonesia dan matematika saja, namun konsep dasar dan kemampuan  yang dibutuhkan siswa untuk memahami sebuah materi.

  • Mengubah dokumen rencana pembelajaran dari 13 halaman menjadi 1 halaman.

Dalam satu halaman RPP itu hanya terdiri dari 3 komponen  yaitu tujuan pemmbelajaran, kegiatan pembelajaran dan penilaian pembelajaran.

4.USBN diserahkan kepada sekolah .

Dengan diserahkannya USBN kepada sekolah , sekolah bisa membuat ujian kelulusannya sendiri sehinnga guru bisa mendapat ruang untuk membuat instrumen penilaian yang lebih relevan dengan keadaan dan daya dukung yang ada pada sekolah.

Namun sudahkah pendidikan indonesia menerapkan merdeka belajar?

Di tengah pandemi ini tentu banyak sekali keluhan siswa dalam pembelajaran dalam sistem daring sekarang ini, terutama banyak yang tidak bisa mengikuti belajar daring. Jika ada yang bertanya,Kenapa ada yang belum mengikuti kelas daring? Bukankah rata-rata siswa Indonesia sudah bisa browsing internet? memang rata rata pelajar idonesia sudah bisa memakai internet, namun tidak semuanya memiliki android,bukan? Jangankan android,namun bagaimana jika ada orang tua siswa yang untuk beli beras saja kesulitan ? Oleh karna itu, disini sangat dibutuhkan peran pemerintah dalam terlaksananya kelas daring. Tidak hanya peran dalam mengatur konsep belajar tetapi jugaaa , mengusahakan terlaksananya pembelajaran itu.

Dalam permasalahan diatas peran pemerintah dalam mengatasi hal tersebut sangat dibutuhkan, karena pemerintah tidak bisa memaksakan siswa untuk selalu mengikutikelas daring jika belum memberikan solusi untuk mereka.

Maka bisa di katakan di tengah pandemi ini pendidikan Indonesia belum bisa dikatakan 100% merdeka belajar, maka dari itu mari kita bersama-sama membantu terlaksananya konsep merdeka belajar ini dari peran siswa,guru, orang tua dan agar pendidikan idonesia menjadi pendidikan yang MERDEKA BELAJAR!